Jurnal #SelfQuarantine: Membangun Kembali Relasi yang Hilang

Jurnal Agnes, Day 42 #SelfQuarantine

Tidak terasa satu bulan sudah berlalu. Kalau diingat-ingat lagi, 2020 ini aku hanya menjalani 2 setengah bulanku dengan “bebas”, setelahnya hingga hari ke-42 #selfquarantine aku menjalaninya di rumah aja. JIka di awal perjalanan cerita #selfquarantine ini aku bercerita tentang kisahku menangis saat mengikuti ibadah minggu secara online, maka di hari ke-42 ini aku sudah mulai terbiasa. Sebuah kebiasaan baru hampir terbentuk selama 42 hari ini.

Follow @nestiituagnez for more artwork.

JIka ditelaah lagi, pandemi ini mengajarkan kita untuk berdiam diri dan berhenti dengan semua kesibukan. Bagi mereka yang tinggal bersama keluarga, bisa memakai waktu ini untuk membangun kembali hubungan yang baik dan berkualitas dengan anggota keluarga. Masing-masing dari kita juga bisa menggunakan waktu-waktu ini untuk bermeditasi. Walau tentunya, tidak semuanya dijamin berjalan mulus, at least kita sudah mencoba.

Seperti biasa, setiap hari aku tetap berkomitmen menuliskan hal-hal yang aku syukuri. Tanpa sadar, semua hal-hal yang aku syukuri adalah hal-hal yang sangat sederhana. Bersyukur bisa ngobrol dengan sahabat yang saat ini ada di luar negeri, bersyukur bisa ngobrol via whatsapp dengan keponakan, bersyukur bisa makan sayur hari ini, bersyukur hari ini bisa olahraga dari rumah, bersyukur bisa bangun pagi, bersyukur bisa masak terang bulan (martabak manis) walau agak gagal, bersyukur hari ini internet telah pulih setelah seminggu gangguan, bersyukur hari ini bisa minum chattime, dan masih banyak lagi hal-hal sederhana yang ada dalam deretan list ini.

Terlebih dari itu semua, setelah satu setengah bulan #dirumahaja, aku bersyukur bisa memiliki waktu-waktu berkualitas dengan Tuhan. Mengutip khotbah Pak Mike Chrisdion dari Gibeon Church Surabaya, “sekarang waktunya KALIBRASI HATI. Sama seperti alat musik yang perlu dikalibrasi, hati ini juga perlu. Dan masa-masa karantina ini adalah extra time dari Tuhan buat lakukan hal itu.” Biasanya selalu ada alasan untuk tidak melakukan Alone with God. Capek karena lembur, telat bangun, dan masih banyak lagi. Seperti kalimat dari Ko Samuel Soegiarto saat khotbah di Persekutuan Online Kampus kemarin:

“Saatnya kita menilik hati, jangan sampai selama ini kita sibuk menjadi Martha, dan lupa menikmati waktu-waktu berkualitas bersama Tuhan”.


Hal lain yang aku syukuri juga adalah bisa
video call secara rutin dengan teman-teman. Padahal sebelumnya, untuk bertemu sebulan sekali saja, kami sangat sibuk. Bukan saja sibuk, namun jarak yang jauh walau sama-sama di Jakarta dan harus menempuh macet. Jika bisa berkumpul pun, belum tentu semuanya bisa datang. Namun, ketika masa-masa ini, kami malah semakin sering video call dan banyak yang bisa bergabung. Dengan adanya pandemi ini, aku malah bisa berkomunikasi kembali dengan teman-teman lamaku di kampus melalui daring. Biasanya kami sama-sama sibuk. Jika aku sudah bisa untuk video call, temanku masih ada kegiatan. Begitu sebaliknya, hingga kami lupa dengan janji kami untuk bertemu secara online.

Walau terkadang aku mengeluh karena bosan di rumah, tapi ada banyak hal yang bisa aku syukuri dan nikmati. Hal-hal kecil yang mungkin selama ini terlewatkan bagiku.

Bagaimana denganmu? Apa yang kamu syukuri melalui pandemi ini?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s