Jurnal #SelfQuarantine: Menangis saat Ibadah Online

Jurnal Agnes, Day 12 #SelfQuarantine.

Di awal Maret 2020, kasus pertama Virus Corona muncul di Indonesia. Tentunya hal ini menjadi menjadi berita yang cukup mengejutkan bagi masyarakat Indonesia, apalagi di Jakarta. Setiap sore di kantor, aku menonton berita resmi dari Gugus Tugas penanganan Covid-19 di Indonesia. Setiap hari semakin bertambah. Tak lama kemudian, di tanggal 17 Maret, pemerintah mulai menghimbau agar karyawan dapat bekerja dari rumah dan tetap stay di rumah saja. Maka, sejak tanggal 17 Maret, aku mulai bekerja dari rumah. Well, tepatnya dari sebuah kos-kosan di kawasan Jakarta Barat.

Berada di rumah saja selama 24 jam / 7 hari merupakan sebuah hal yang sangat baru bagiku. Sebelum pandemi, aku hanya menganggap kamar kosku sebagai tempat istirahat dan mandi. Hampir 12 jam dalam sehari kuhabiskan di luar kos. Dari pagi pergi ke kantor, sepulangnya lanjut ke mall untuk makan malam dan jalan-jalan. Atau kadang meet up dengan teman atau mengikuti cell group sepulang kantor. Di akhir pekan, biasanya aku mengelilingi Jakarta menggunakan transportasi umum, ke mall yang lebih jauh dari daerah tempat tinggal, atau hangout bersama teman-teman. Dan tanggal 18 Maret, dalam sekejap hidupku berubah.

Bangun pagi, buka laptop, kerja tanpa perlu mandi, order makanan atau masak, makan, kerja lagi, netflix hingga tidur. Repeat.

Aku cukup struggle di 2 minggu awal ini. Aku merasa terkurung. Semua rutinitas itu tiba-tiba seperti berhenti mendadak. Sekarang, aku hanya berjumpa dengan teman-teman melalui aplikasi video call seperti zoom, google meet atau skype.

Salah satu cara pencegahan penyebaran virus corona adalah dengan berada di rumah. Belanja bahan makanan pun aku lakukan secara online. Semua serba online. Well, aku tidak punya pilihan lain selain berada di rumah aja. Oleh karena itu, aku harus membuat ini sebagai sesuatu yang menyenangkan. Atau setidaknya, aku harus melihat ini dari sudut pandang yang berbeda.

Alih-alih menjadi terpuruk karena seperti “dikurung”, aku belajar untuk bersyukur. Aku mulai lebih banyak berefleksi dan mengevaluasi hidupku. Waktu-waktu ini kupakai untuk melihat lagi kelemahan dan kelebihanku. Tidak lupa, aku tetap bersosialisasi secara daring dengan teman-temanku.

Di masa 2 minggu awal ini, aku menyadari bahwa selama ini ada banyak hal-hal kecil yang terjadi di sekeliling kita yang tanpa kita sadari itu mempunyai peranan yang penting. Small things matter. 


Teknologi.

Kualitas Wifi dan kuota internet menjadi sangat berharga. Ada suatu waktu, wifi kosku gangguan, sehingga aku tidak bisa bekerja dan juga tidak bisa streaming netflix. Peristiwa kecil ini menyadarkan aku bahwa peran wifi/kuota internet adalah sesuatu yang penting dan sudah seharusnya kita syukuri. Mungkin karena hal ini sudah “terbiasa” ada, makanya kita lupa bersyukur. Dengan adanya teknologi dan internet, masa-masa karantina menjadi tidak membosankan karena bisa streaming netflix, nonton youtube, online meet-up, online learning dan juga online service.

Kesempatan beribadah di gedung gereja, berkumpul bersama teman dan hangout di mall.

“Gereja bukanlah gedungnya, tetapi orang-orangnya”. Ya, hal ini benar dan aku juga percaya akan hal itu. Gereja tidaklah terbatas oleh tembok-tembok gedung, namun Kristus yang hidup dalam hati setiap orang percaya. Tidak lepas dari itu, aku sudah 2 minggu mengikuti online service. Sebenarnya ini bukan kali pertama bagiku. Sebelum ada himbauan Self Quarantine, aku beberapa kali mengikuti online service. Tapi, 2 minggu ini terasa berbeda. 

Aku menjadi begitu terharu ketika online service. Ku rindu beribadah bersama dengan jemaat Tuhan di gedung Gereja. Disaat lagu pertama dinyanyikan saat ibadah, aku menangis. Menangis karena aku merindukan ibadah bersama dengan jemaat di Gedung gereja. Sepanjang pujian, aku tak berhenti menangis. Menangis karena melihat keadaan sekarang yang serba tidak pasti dan juga tangisan ucapan syukur karena Tuhan masih pelihara. 

Waktu-waktu ini menyadarkanku untuk mensyukuri hal-hal kecil. Bisa bergereja tiap minggu di Rumah Ibadah adalah sebuah PENYERTAAN Tuhan. Itu bukan “hal yang biasa saja”, tapi itu adalah penyertaan Tuhan hingga kita bisa beribadah. – Sama halnya dengan BERKUMPUL dengan teman-teman. Atau bisa hangout dengan bebas dari 1 mall ke mall yang lainnya. Kayaknya sudah seharusnya dan jadi hal yang lumrah kita bisa hangout bersama teman di Mall atau di Kafe-kafe.

Social Distancing ini mengajari bahwa HAL yang terlihat sangat simple itu pun adalah sebuah PENYERTAAN Tuhan yang luar biasa. Belajar menghargai hal-hal kecil yang Tuhan beri dalam setiap waktu hidup.

12 Hari ini mengajarkan banyak hal. Dari bersemangat menjalani Self Quarantine, hingga kebosanan. Kadang overthinking dan jadi parno sendiri di kamar. Tapi waktu-waktu ini membuatku lebih banyak ME TIME. Menjalani hari yang tak pasti tapi terus menaruh pengharapan pada yang pasti.

Ini kontribusiku untuk Indonesia: Rebahan! Biar bisa segera ini berlalu.

Semua akan baik-baik saja. Semua akan berlalu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s