5 Tahun Mengadu Nasib di Ibukota

9 Oktober, 5 tahun lalu, aku baru saja mendarat di Bandara Soekarno Hatta bersama 2 koper, 1 tas laptop, 1 gitar dan 1 buket bunga. Setelah mulai merantau ke Surabaya, aku tidak pernah menyangka aku akan melanjutkan hidupku dengan bekerja di Jakarta. Bahkan, kota ini tidak pernah masuk dalam daftar kota yang ingin aku kunjungi ataupun tinggalin.

Setiap tahun, aku selalu membuat refleksi bagaimana hari-hariku selama berada di ibukota. Di Tahun kelima ini, hari-hari semakin terasa istimewa karena pandemi. Sejak Maret 2020, kantorku memberlakukan work from home. Tidak hanya itu, pemerintah juga menetapkan pemberlakuan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) di Jakarta. Hal ini membuat mau tidak mau, aku harus tetap berada di kos selama 7×24 jam. Sesekali, aku berolahraga keliling kompleks ataupun belanja 2 mingguan ke supermarket terdekat.

5 tahun dengan semua lika liku yang kuhadapi tidaklah mudah. Di awal tahun, aku resign dari kantor lamaku dan bekerja di perusahaan yang baru yang bergerak di bidang penyedia jasa internet dan tv. Kali ini, tantangannya berbeda. Aku harus belajar untuk memimpin dan berkoordinasi dengan tim dan agency. Sejujurnya, aku sangat insecure di kantor yang baru. Latar belakang pendidikanku adalah IT, dan hanya mencicipi pekerjaan sebagai digital marketing selama 1 tahun terbaik. Itupun tidak sepenuh digital marketing, hanya namanya saja. Namun kerjaanku lebih ke sosial media dan creative. Di kantor yang baru, teman-teman satu tim semua terlihat mahir dalam hal digital marketing. Berbagai istilah sulit berkaitan dengan ads ataupun marketing seperti sudah khatam bagi mereka. Sedangkan aku lack of knowledge of digital marketing area. 

Aku masih ingat jelas, 1 bulan awal, aku sering ke toilet dan menangis. Aku takut aku tidak bisa melewati ini semua. Walau demikian, aku tidak patah semangat. Ini justru membuatku semakin giat belajar tentang digital marketing. Aku belajar bertanggung jawab atas kepercayaan yang diberikan dan juga belajar percaya pada orang lain. Jika dulu di kerjaan yang lama, aku mengerjakan semua project sendiri, maka di kerjaan baru, aku hanya bertugas berkoordinasi dan beberapa agency akan mengerjakannya. 

Awal 2020 yang tidak mudah. Bersyukur, lewat pertolongan Tuhan aku mampu melewatinya. Hingga tiba di bulan Oktober, aku sudah semakin akrab dengan teman-teman di kantor yang baru.

Aku bersyukur karena di tahun kelima ini aku bisa menantang diriku sendiri dengan pindah kantor, keluar dari zona nyaman, bertemu orang yang lebih beragam latar belakangnya dan terutama belajar untuk berbenah diri. Pandemi yang melanda membuat aku harus banyak berdiam diri di kos. Jika dulu aku dengan mudahnya datang ke Katedral dan berdoa disana, kini aku harus terbiasa ada di kos dan menilik diriku lebih dalam. Aku belajar untuk menjadi mutiara yang terus diasah baik secara kepribadian, fisik, maupun pengetahuan.

Lima tahun dengan semua lika liku ini tidaklah mudah. Satu keyakinanku bahwa jika Tuhan yang menjagaku selama 5 tahun bahkan 26 tahun hidupku, maka Tuhan yang sama pula akan menjaga dan melindungiku di setiap langkah-langkah kedepan. Aku tidak berharap akan melanjutkan hidupku di kota ini hingga tahun keenam. Aku punya mimpi saat ini yang sedang kukejar. Semoga aku bisa bertemu tanggal 9 Oktober 2021 di kota (negara) yang baru.

Terima kasih sudah membentukku menjadi seorang yang tangguh.
Setelah 5 tahun, akhirnya aku harus mengakui aku mencintaimu, Ibukota. Walau pengakuan itu menentang egoku untuk mengakuinya.

Aku mencintai hiruk pikuk kotamu. Aku menikmati riuh suara kenderaan beradu di jalanan.
Aku mencintai bagaimana kota ini membentukku dengan keras.
Aku menikmati sikap individualismu yang mengajarkanku untuk taking care of myself first.
Aku menikmati lebih dan kurangmu dalam menghajarku menjadi tangguh.

Terima kasih telah mengizinkan aku melangkah menikmati indah dan pahitnya hidup di Kota ini.
Terima kasih telah mengajariku kuat berlari mengejar mimpi, menghadapi kenyataan.
Terima kasih telah menemaniku berjalan menyusuri waktu-waktu ini.
Terima kasih telah menyadarkanku bahwa betapa bersyukurnya aku lahir di kota Ambon yang punya banyak wisata alam yang indah.
Terima kasih telah menjelikkan mataku bahwa betapa bersyukurnya aku berkuliah di Surabaya dengan orang-orangnya yang sangat kekeluargaan.

Maju terus, Ibukota. Jadi yang terbaik.
❤️ Jakarta

With Love,
Agnes, Si Perantau di Ibukota

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s