Self-Acceptance | Body Shaming Dan Kalimat Rasis, Tanda Pertemanan Semakin Dekat? Inilah 4 Hal yang Kupelajari

“Kulitmu kok hitam banget sih.”

“Bentuk tubuhmu gak elok.”

“Dulu saat kamu kuliah dengan teman-temanmu yang Chinese, kamu seperti seekor lalat di tengah tempayan penuh santan ya?”

“Bentuk wajahmu besar, senyummu lebar.”

“Kamu gak cocok jadi cewek dan pakai baju cewek. Gak ada cewek yang sejelek kamu.”

“Kamu gak cocok pakai baju itu. Itu baju buat cewek cantik dan sexy”

“Aku tidak pernah membayangkan nikah sama orang Indonesia timur dan berkulit hitam. Kenapa sih ada orang-orang sejenis kalian yang berkeliaran di bumi? … (Dan masih banyak lagi. Masih banyak yang lebih kasar).

Sejak kecil aku punya masalah penerimaan diri, seperti yang aku tulis di sini. Namun, semua itu berangsur-angsur pulih ketika aku pindah ke sebuah lingkungan yang sama sekali berbeda denganku. Sebuah lingkungan yang heterogen.

Lalu, ketika aku berteman di Jakarta, luka lama itu kembali terbuka perlahan-lahan.

Kalimat-kalimat rasis, body shaming, sindiran dan offensive di atas diucapkan oleh seorang temanku, orang yang sama. Well, saat itu kami bersahabat. Jadi, aku menganggap ucapan itu adalah cara kami bersahabat. Namun, lama kelamaan, kalimat-kalimat itu terus terngiang-ngiang di kepalaku dan menjadi toxic. Hingga saat aku menulis cerita ini, aku harus memikirkan setiap pemilihan kata dengan sangat hati-hati.

Okay. Yuk mulai.

Disaat temanku itu berkata-kata seperti ini, aku hanya bisa terdiam. Beberapa kali menjawabnya dengan gurauan “iya, lalat di atas santan. Tapi gak masalah mereka menerimaku apa adanya”. Disaat aku dikata jelek karena berkulit hitam, aku kembali menatapnya dan bergumam “kulitmu juga hitam. Apa maksud kalimat ini kamu sedang berkaca?”. Lama kelamaan, aku menyadari bahwa pertemananku ini semakin toxic alias tidak membawa dampak positif sama sekali. Hampir setiap hari aku menerima kalimat rasis dan perlakuan kasar secara verbal. Padahal, kalau mau dikata, dia juga sama berkulit hitam, berahang besar dan sama sekali tidak termasuk golongan “ganteng” untuk standard cowok saat itu. Aku memutuskan untuk tidak lagi berteman dengannya.


Beberapa lama setelah itu, muncul isu yang sedang kekinian karena ditolaknya RUU Penghapusan Kekerasan Seksual. Banyak masyarakat yang menyuarakan secara virtual pesan-pesan mereka untuk mendukung pengesahan RUU tersebut. Lalu aku melihat video ini. Dan aku menangis.

Semua kalimat-kalimat ini, kurang lebih sama seperti yang aku terima. Kalimat yang body shaming bahkan kalimat yang mengarah seksual. Bahkan bukan secara komentar di media sosial. Tapi secara langsung. Lalu aku kembali teringat dengan ratusan kalimat-kalimat lainnya yang pernah dikatakan padaku.

Beberapa hari setelah itu aku merenung, dan ada beberapa poin yang aku pelajari.

1. Hindarilah Pertemanan yang Toxic

Hindarilah pertemanan yang toxic. Kisah itu hanya satu kisah dari seorang teman saat aku di Jakarta. Padahal di sini, aku punya banyak teman-teman yang baik. Teman yang berbeda suku dan agama denganku, tapi tidak menganggap perbedaan fisik sebagai sesuatu yang harus dipermasalahkan. Jadi untuk apa aku membuang waktuku untuk pertemanan toxic tersebut?

2. Belajar Mencintai Diri Sendiri

Belajar mencintai diri sendiri. Aku ingin kamu (dan juga aku) untuk mencintai diri sendiri. Jadilah the best version of yourself. Menjadi yang terbaik karena memang kita ingin memberikan yang terbaik. Don’t be too hard on yourself. Kamu bisa gagal, kamu bisa berbeda, tapi itu bukan alasan untuk menyakiti diri sendiri atau tidak mencintai diri sendiri. Sayangilah dirimu dulu. Ketika kamu sudah utuh mencintai dirimu, kamu bisa memberikan cinta itu bagi orang lain. Memberikan kasih sayang pada orang lain, tapi tidak mengurangi kadar cintamu bagi dirimu sendiri.

3. Belajar Memberikan Respon yang Tepat

Campaign di media sosial itu membuat aku menyadari bahwa kita tidak bisa mengontrol apa yang orang lain pikirkan dan bicarakan. Justru yang harus kita lakukan adalah belajar memberikan respon yang tepat. Jika ada perlakuan rasis atau sindiran pada kondisi fisik tubuhmu, ucapkan balik kalimat “terima kasih”. Berikan respon yang tepat bagi orang tersebut. Belajar memberikan edukasi yang baik, tidak membalas yang jahat dengan yang jahat. Omongan yang tidak “berfaedah” tidak usah untuk dipikirkan. Itu hanya akan membuang-buang waktumu saja. Pakai waktu kamu untuk hal yang lebih baik. Rawat dan jaga diri karena memang kamu ingin hidup sehat.

4. Kamu Berharga di Mata Tuhan

Kamu berharga di mata Tuhan. Aku teringat dengan lirik lagu “Tuhan cinta semua bangsa, semua bangsa di dunia. Kuning putih dan hitam semua dicinta Tuhan. Tuhan cinta semua bangsa di dunia.” Tuhan pencipta mencintai kamu apa adanya dirimu. Kasihnya utuh 100% tidak berkurang sedikitpun apapun kondisinya. Entah kamu berkulit hitam, berkulit putih, gemuk, kurus, tomboy, apa pun, Tuhan tetap mencintaimu. Kamu itu berharga bagi Tuhan. Tuhan merancangmu unik dan details. Bahkan sehelai rambutmu pun dirancang dengan sempurna oleh Tuhan. Apa pun perkataan rasis / negatif dari orang kepadamu, tidak membuat nilai dirimu itu berkurang. Kamu tetap anak yang sangat disayang Tuhan.


Keempat poin ini selalu menjadi pengingat padaku ketika aku bertemu dengan orang-orang yang cenderung rasis, toxic dan membawa dampak buruk. Sekarang kalau ditanya, apakah aku masih sakit hati dengan kalimat-kalimat temanku itu? Jawabanku adalah tidak.

Aku mencintai diriku. Aku bangga aku berkulit sawo matang. Aku bangga punya teman-teman yang sangat beragam, karena dari perbedaan itulah aku semakin melihat keindahan. Aku senang dengan penampilanku sekarang yang tidak suka memakai dress, lebih sering celana panjang, baju kaos dan sneaker. Aku bangga lahir dan menjadi orang Indonesia Timur, daerah yang penuh kekayaan alam dan budaya. Aku bangga menjadi diriku sendiri. Ada sebuah lelucon “Orang rasis sepertinya tidak cocok masuk surga. Karena di surga ada berbagai orang dari latar belakang suku, budaya dan bahasa yang berbeda-beda. Jadi ya, kalau ga terbiasa dengan perbedaan, mungkin kamu tidak cocok berada di surga.” Sebuah lelucon yang mungkin ada benarnya, dan aku percaya itu =p

Disclaimer: Aku menulis cerita ini tidak bermaksud ingin menyudutkan pihak mana pun. Aku telah memaafkan pihak yang mengatakan perkataan tersebut kepadaku. Pengkalimatan perbedaan fisik yang aku tulis hanya sebagai sebuah penggambaran perbedaan agar dapat lebih dipahami oleh para pembaca. Aku terbuka untuk diskusi mengenai hal ini.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s