Self-Acceptance | Menemukan Kepercayaan Diri di Lingkungan yang Heterogen

Sejak kecil, aku tidak terlalu memperhatikan penampilanku. Aku malah kadang malu jika memakai baju yang sangat identik dengan “perempuan”. Seperti dress, rok ataupun aksesoris wanita lainnya. Aku tumbuh besar di kalangan yang homogen atau dengan kata lain sebagai mayoritas di daerahku. Tetangga di kampung halaman berasal dari satu suku yang sama. Sebagian besar. 98%. 2% nya adalah orang dari suku yang berbeda namun sejak kecil sudah terlahir di kota kecil ini.

Seperti teman-teman di daerahku, warna kulitku sawo matang dan berambut ikal. Namun, karena tidak “menjaga” penampilan fisik, akhirnya aku menerima perlakuan yang “rasis” dari teman-teman yang berasal dari satu suku yang sama.

Well, sebelum panjang lebar, kita samakan dulu pengertian kata “Rasis”. Menurut wikipedia, Rasis adalah “suatu sistem kepercayaan atau doktrin yang menyatakan bahwa perbedaan biologis yang melekat pada ras manusia menentukan pencapaian budaya atau individu – bahwa suatu ras tertentu lebih superior dan memiliki hak untuk mengatur ras yang lainnya.”

Oke, kembali ke inti cerita. Seperti yang sudah kucerita di atas, karena tidak pandai merawat diri, betis kakiku banyak bekas luka. Aku dapat luka-luka itu sewaktu kecil, ketika jatuh terluka saat bermain, dan sempat alergi susu sapi. Hal itu membuat kakiku tidak se”indah” teman-teman seumuranku yang bersih dan mulus. Tidak hanya itu, di pahaku terdapat tanda lahir, yang semakin hari semakin membesar, seperti tompel di paha kiri. Semua ini membuat aku tidak terbiasa dan malu jika harus memakai celana pendek keluar rumah. Aku selalu memilih memakai celana jeans panjang saat pergi bersama teman-teman. Untunglah, saat itu, SMP-ku mewajibkan kami untuk memakai rok panjang 5 cm di bawah lutut dan memakai kaus kaki putih setinggi betis. Aku selamat. Setidaknya bekas luka itu tidak terlalu mencolok saat aku di sekolah.

Namun, entah bagaimana, teman-temanku akhirnya tahu. Sejak saat itu aku dipanggil “kaki bintang”. Well, saat itu, frasa tersebut adalah julukan bagi orang-orang yang memiliki betis kaki penuh dengan bekas luka. Sebagai seorang perempuan, aku menangis. Aku kadang menyalahkan orang tuaku karena tidak merawat bekas lukaku ini dengan serius. Aku malu. Lalu di masa-masanya cinta monyet jaman SMP, banyak yang berkata “Cowok itu lihatnya dari betis. Betisnya mulu apa gak. Gak mungkin cowok mau sama yang kaki bintang”. Saat itu, masa-masa puber itu membuatku semakin terpuruk. Aku menyalahkan diri sendiri dan tidak berani menerima diri sendiri.

Ketika aku SMA, aku menjadi menutup diri. Selalu memilih pakaian yang “aman”. Akhirnya di kelas 2 SMA, aku mencoba berbagai cara. Aku mulai ke dokter kulit dan melakukan pengobatan. Sayangnya, aku kurang telaten untuk merawatnya. Akhirnya, bekas luka itu sedikit memudar, tapi masih terlihat jelas.

Long story short, aku pindah ke Pulau Jawa, tepatnya di Kota Surabaya untuk berkuliah. Sebelum Ospek, kami disuruh ikut briefing dengan dress code baju putih dan rok putih selutut. Aku terdiam, ingin nangis rasanya saat aku tahu harus memakai dress code rok pendek. “Ini kota baru, lingkungan baru, aku ingin memulai sesuatu yang baru dan ingin melupakan masa laluku yang pahit itu.” Namun nampaknya, aku tidak bisa kabur.

Hari briefing dimulai, semua mahasiswa berbaris rapi. Aku tidak bisa melepas pandanganku dari indahnya kaki teman-temanku saat memakai rok pendek. Aku sengaja memakai kaus kaki panjang agar tertutup. Untunglah, dress code itu hanya dipakai sekali saat itu dan saat upacara 17 agustus saja. Sisa hari-hariku di kampus selamat, itu pikirku.

Long story short (lagi), sebagai mahasiswa baru, aku harus mengikuti berbagai jenis camp. Itu berarti aku bersama teman-teman selama 24 jam, dan kemungkinan besar ada saat di mana aku harus memakai celana pendek. Oh ya, aku lupa bilang. Aku berkuliah di kampus swasta di mana teman-temannya sangat beragam. Sebagian besar berketurunan Chinese dengan penampilannya yang khas, berkulit putih, bermata sipit. Sebagian lagi, orang-orang keturunan jawa. Hampir semua dari mereka berbicara dengan khas jawa, alias medok. Dan Menurut standar bias para anak muda, yang cantik yang yang berkulit putih dan berambut lurus. Which means, I am not the one. Aku pindah dari lingkungan dimana aku dari mayoritas menjadi minoritas (secara suku). Maka itu membuatku semakin minder.

Hingga suatu ketika, disaat camp mahasiswa, aku memakai celana pendek dan ada yang bertanya padaku. “Kakimu kenapa?”. Satu kalimat pertanyaan yang membuatku ingin menangis dan duniaku rasanya runtuh. Temanku itu cantik. Berkulit putih, bertubuh ideal bagai model. Aku memilih untuk menjawab sejujurnya. Dia lalu memberikan saran obat gosok yang dia tahu.

Wow. Aku tidak dihina. Aku tidak dikata-katain “Kaki bintang”. Mereka malah memberiku saran untukku membaik. Semua ekspektasi hinaan yang akan kuterima, runtuh seketika. Sejak saat itu, kepercayaan diriku mulai tumbuh perlahan-lahan. Seiring dengan seminar-seminar yang aku ikuti untuk penerimaan diri. Aku adalah ciptaan Tuhan yang berharga, dan Tuhan menerimaku apa adanya.

Hari berganti hari, aku mulai semakin percaya diri. Beberapa kali aku memakai rok ke gereja, atau celana pendek saat ku menginap bersama teman-temanku. Bekas luka itu belum seutuhnya membaik. Tapi hatiku semakin hari semakin membaik. Teman-temanku yang melihat diriku pun justru memberikan masukan atau malah tidak menganggap “kaki bintang” itu sebagai suatu pembeda. Teman-temanku meyakinkan aku bahwa:

“The beauty of a woman is not in a facial mole,but true beauty in a Woman is reflected in her soul. It is the caring that she lovingly gives, the passion that she knows”.

Dari peristiwa ini, aku menyadari bahwa berada pada lingkungan yang homogen atau mayoritas tidak otomatis membuatmu menjadi “sama” dengan yang lain. Begitu sebaliknya, berada di lingkungan yang heterogen atau saat aku menjadi minoritas, tidak otomatis membuatmu menjadi “berbeda”. Hal yang ingin aku katakan disini adalah, jadilah dirimu sendiri. Terimalah dirimu apa adanya. Perbaiki diri untuk menjadi the best version of yourself, bukan untuk pujian orang lain. Kadang peristiwa “Rasis” itu datang ketika kamu berada di lingkungan yang homogen. Dan kamu akan semakin menyadari indahnya perbedaan ketika berada di lingkungan yang heterogen. Jangan salah paham, aku tidak mengatakan bahwa berada di lingkungan yang homogen itu buruk. Tidak. Setiap lingkungan itu punya tantangannya sendiri.

Aku bersyukur berada di lingkungan yang heterogen yang membuatku menjadi semakin mengerti arti toleransi, perbedaan dan sebuah perjalanan untuk penerimaan diri.

Melihat isu-isu rasisme yang saat ini sedang berkembang, aku hanya ingin mengatakan bahwa, kita itu diciptakan berbeda-beda. Tidak ada yang lebih tinggi derajatnya hanya karena berkulit X, atau sebaliknya. Rasisme adalah sebuah tindakan yang menyakiti diri sendiri dan orang lain. Hargai perbedaan. Cintai perbedaan. Justru dari perbedaan itulah terpancar keindahan. Kelima jari kita berbeda-beda fungsi dan tampilan fisiknya. Justru itulah yang membuatnya indah ketika bersatu.

Disclaimer: Aku menulis cerita ini tidak bermaksud ingin menyudutkan pihak mana pun. Aku telah memaafkan pihak yang mengatakan perkataan tersebut kepadaku. Pengkalimatan perbedaan fisik yang aku tulis hanya sebagai sebuah penggambaran perbedaan agar dapat lebih dipahami oleh para pembaca. Aku terbuka untuk diskusi mengenai hal ini.

2 thoughts on “Self-Acceptance | Menemukan Kepercayaan Diri di Lingkungan yang Heterogen

  1. Pingback: Self-Acceptance | Menemukan Kepercayaan Diri di Lingkungan yang Heterogen — nestiituagnes’ story! | Mon site officiel / My official website

  2. Pingback: Self-Acceptance | Body Shaming Dan Kalimat Rasis, Tanda Pertemanan Semakin Dekat? Inilah 4 Hal yang Kupelajari | nestiituagnes' story!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s