You are So Brave

“You are so brave, Nes. You have a teachable heart. You did well. It’s not easy to face all those things alone, but you did. You did well.”

Sepenggal kalimat yang membuatku menangis. Kali ini bukan menangis karena sedih, tapi karena bahagia. Ada sebuah perasaan lega dan bangga ke diri sendiri ketika psikolog langgananku mengatakan itu padaku. Dan aku juga ingin bilang ke kamu yang akan membaca tulisan ini “You are so brave. You did well.”

Hari ini, aku memutuskan kembali lagi ke psikolog setelah 2 tahun yang lalu aku melakukan konseling bersamanya. Perasaanku kini lebih tenang dibanding kali pertama aku datang ke tempat ini. Sebuah ruangan kecil di lantai 2 sebuah ruko apartemen di kawasan Jakarta. 

I have been struggling with myself for almost 10 years. Namun, puncaknya adalah ketika aku pindah ke Ibukota. Jauh dari comfort zone-ku, beradaptasi dengan lingkungan baru dan memasuki dunia kerja. Those things made me realize that all these years I have problems with myself. Long story short, aku memutuskan untuk mencari pertolongan dari seorang profesional.

Mungkin aku akan membahas kisah 2 tahun lalu itu di tulisanku selanjutnya. Tapi kali ini aku ingin membagikan sebuah refleksiku di masa-masa ini.

Februari 2020.

Aku memulai pekerjaan baruku di sebuah kantor swasta di kawasan Jakarta Selatan. Sudah lama aku menginginkan untuk bekerja di kawasan elit seperti daerah Jakarta Selatan. Dan itu terwujud. Bulan ini juga, aku kembali ke psikolog. 

Hal pertama ketika aku melihat wajah psikolog, aku seperti melihat sebuah harapan. 2 tahun lalu, aku datang ke sini dengan derai air mata, namun akhirnya aku bisa keluar dan kembali melihat mentari dengan wajah tersenyum. Hari ini juga, aku yakin, aku bisa. Perlahan, semua akan membaik.

Tak perlu waktu perkenalan, aku langsung ke inti permasalahan. Konseling hari itu, ditutup dengan sebuah pelukan hangat. Aku menangis. Lagi. 

Kembalinya aku disini adalah sebuah keputusan yang tepat yang kuambil di awal tahun ini. Walau aku harus beradu dengan macetnya ibukota di jam pulang kerja untuk bisa datang ke tempat ini, namun aku tidak pernah menyesal. Long story short, aku membuat janji di bulan depan untuk konseling lagi. Namun, semesta tampaknya tidak mendukung. Pandemi Virus Corona muncul di Indonesia, dan kami sebuah harus melakukan self-quarantine.

 

Masa-masa tersulit.

Sekembalinya di Jakarta seusai liburan akhir tahun, aku memasuki masa-masa dimana aku menangis hampir tiap malam di kamar kos. Tak jarang, histeris seperti seorang yang kehilangan. Lalu pandanganku mulai kabur, menangis tersedu hingga akhirnya tertidur. Atau kadang, aku bisa terjaga sepanjang malam, dan baru tertidur ketika mentari menyapa. Pernah suatu masa, aku berpikir untuk menyudahi ini semua. 29 Feb, 1 hari tambahan yang justru aku habiskan dengan tertidur pulas hampir 22 jam karena pengaruh obat tidur.

Kembali ke psikolog, dan sekarang terkurung karena karantina mandiri. Ini menjadi masa-masa tersulit, karena mau tidak mau, suka tidak suka, aku harus berada di kamar, tidak keluar, dan tidak bertemu dengan orang lain.

Awal-awalnya ini begitu sulit. Tidurku tidak pernah lelap. Ketika badanku menoleh ke kiri, aku merasa seperti ada sesuatu di kananku, begitu sebaliknya. Well, bagi kamu yang sangat spiritual, mungkin kamu akan berkata “gak doa kali sebelum tidur, Nes”. 

Aku hanya bisa tersenyum mendengar ucapan ini. I did it. I did it. Aku juga percaya Tuhan. Kita (aku dan orang yang mengatakan itu) percaya Tuhan yang sama. Ini bukan masalah doa dan gak doa. Ini lebih daripada itu.

Dulu, ketika aku ada dalam masa gelap ini, aku memutuskan untuk pergi ke mall, atau ke kos temanku. Atau setidaknya, aku keluar, naik Trans Jakarta dan get lost di Jakarta. Namun, aku tidak bisa melakukan ini di masa sekarang.

Masa-masa ini aku mencoba produktif. Aku belajar online, belajar membuat karya, mengikuti rangkaian ibadah online. Namun, pada akhirnya aku lelah. Aku lelah untuk berpura-pura bahwa “aku baik-baik saja”.

Hal ini diperburuk dengan melihat sosial media. Ya, selama masa-masa karantina ini adalah masa yang berat. Walau aku tetap bersyukur bahwa aku masih diberi pekerjaan dan aku dalam keadaan sehat fisik.

Long story short, aku memutuskan untuk berdamai dengan diri sendiri. Lewat beberapa tulisan dan video yang aku lihat, aku menyadari bahwa hal yang harus kulakukan pertama adalah berdamai. Berdamai dengan siapa? Dengan diriku sendiri. Lalu, aku kembali membaca renungan, memakai waktu-waktu ini untuk kembali membenahi diriku sendiri. Aku menjadi lebih punya banyak waktu untuk self reflection dan quality time with God. 

Mungkin ini terdengar seperti toxic positivity for myself, but I said this to my heart: “Berhentilah menyakiti dirimu sendiri. You have been struggling a lot. And sekarang waktunya untuk kamu bangkit. Forgive yourself. Bahkan disaat dunia meninggalkanmu, Bapa di Sorga tidak pernah meninggalkanmu.” Aku mengatakan itu berulang-ulang. Aku berhak bahagia. I will deserve better than this. Pakai waktu-waktu ini untuk bangkit dan recharge diri. 

Kadang di masa-masa seperti ini, yang kita butuhkan bukan harus produktif. Diam, tenang dan bertahan, itu sudah lebih dari cukup. Bisa produktif hanya sebuah bonus.

—-

Aku tahu, banyak orang yang struggle dengan dirinya sendiri dan your mind. Tapi, satu hal yang pasti: semua ini akan berlalu. Ini hanya sebuah awal gelap yang datang dalam hidup, dan akan pergi berganti langit cerah dan pelangi yang indah.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s