Bagaimana Jika?

Beberapa hari yang lalu, aku membatalkan janji yang sudah kubuat selama 2 minggu sebelumnya. Aku lebih memilih pergi ke rumah duka untuk memberi dukungan bagi seorang temanku yang mamanya meninggal. Dari tempatku tinggal ke Rumah Duka, pikiranku kacau. Aku sedih mendengar kabar mamanya temanku meninggal, tapi disaat yang bersamaan, aku juga takut. Takut mati. Mungkin hal ini terlihat aneh, tapi itu yang ada di pikiranku saat itu.

Teringat saat semester awal perkuliahan, kami semua mahasiswa baru disuruh menulis obituary. Disaat sudah tiada nanti, orang seperti apa yang kamu ekspektasi ingin orang lain kenang?

***

Aku juga baru pindah di kantor yang baru selama kurang lebih 2 minggu. Aku orang yang susah beradaptasi. Sangat sulit. So, ini menjadi struggle ku selama 2 minggu. Aku pindah dari kantor yang sebelumnya setelah 4 tahun lebih bekerja di sana. Disaat sudah pergi, orang seperti apa yang kamu ekspektasi ingin orang lain kenang? 

***

Balik lagi ke cerita awal. Ketika aku tiba di Rumah Duka, aku menunggu teman-teman lainnya. Saat itu, ku duduk di pagar depan, dan tiba-tiba seorang anak SD histeris dan menangis. Menangis kehilangan. Kencang. Teman-teman dan (sepertinya) orang tuanya menenangkan dia. Namun, dia tetap menangis kencang. Bahkan lebih dari 30 menit aku di sana.

Teman-temanku tiba. Kami jalan masuk ke dalam rumah duka. Dimana ada tangis dan juga kelegaan karena orang terkasih kita sudah bertemu Sang Pencipta. Pikiranku mulai berkelana. Bagaimana jika aku tiada? Bagaimana kalau aku kehilangan orang-orang yang kukasihi (lagi)? Bagaimana? Bagaimana jika?

***

Hidup tuh gak ada yang tahu bagaimana akhirnya. Bisa jadi setelah publish tulisan ini, sesuatu terjadi padaku. Bisa jadi ini dan itu.
Karena akhir yang masih misteri, bagaimana jika logikanya dibalik?
Bagaimana jika mulai sekarang kita mulai memikirkan dan menjalani hari ini?

Berusaha sebisa mungkin untuk memberikan yang terbaik setiap detik.
Berusaha sebisa mungkin untuk berbuat baik bagi orang lain.
Berusaha sebisa mungkin untuk menghidupi hari ini dengan ucapan syukur.

***

Di Hari Kasih Sayang ini, bagaimana jika kita mengungkapkan rasa cinta kita kepada orang di sekitar yang kita kasihi? Bukan melulu mengenai pasangan, tapi ke teman-teman, keluarga, dan yang lainnya.
Selamat Hari Kasih Sayang!

Such a random thoughts. Hopefully, this will give you some thoughts about life.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s