KL Forest Eco-Park: Hutan Kota yang Instagram-able

Pada awalnya aku ragu untuk masuk. Senin jam 8 pagi dan masih sangat sepi. Akhirnya aku memberanikan diri masuk dengan mengajak seorang turis dari India (yang juga sendirian) untuk masuk bersama. Bermodalkan kamera ponsel dan tripod ternyata tidak cukup. Jembatan gantung dan menara yang tinggi, membuat aku kewalahan jika harus berfoto dengan tripod dan bluetooth remote. Aku dan turis dari India itu saling bergantian berfoto. Sayangnya, aku kurang puas dengan cara dia mengambil gambar. Lalu, aku meminta tolong turis lainnya dari Paris (yang kebetulan adalah solo traveler juga) untuk mengambil foto ini. Kami berkenalan, dan malah melanjutkan perjalanan ke tujuan berikutnya bersama-sama.

Kuala Lumpur Forest Eco Park dapat menjadi salah satu alternatif tempat wisata di KL. Dari sini, kamu dapat melihat pemandangan hutan yang hijau dan sekaligus gedung-gedung tinggi di Kuala Lumpur, Malaysia. Terletak di Jalan Raja Chulan, berada satu area dengan Menara Kuala Lumpur (KL Tower) membuat tempat ini mudah diakses menggunakan transportasi umum. Kamu bisa naik goKL, mengambil jalur ungu (purple line) dan berhenti di KL Tower atau menara Olympia, Jalan Raja Chulan. Atau kamu bisa bisa menaiki monorel dan berhenti di satasiun Raja Chulan atau Bukit Nanas. Kemudian kamu bisa berjalan kaki sekitar satu kilometer dan naik shuttle gratis menuju KL Tower.

Taman Eko Rimba KL – Hutan Simpan Bukit Nanas

Bukit nanas atau yang dikenal juga sebagai “Pineapple Hill” adalah hutan tropis yang berada di pusat kota Kuala Lumpur. Hutan simpan Bukit Nanas ini dikelilingi oleh bangunan bertingkat tinggi dan jalan-jalan utama di KL. Pada dulunya Bukit Nanas dikenal dengan nama Bukit Gombak. Dilansir oleh jalanja, Bukit Nanas ini diresmikan oleh pemerintahan Inggris pada tahun 1909 dengan menyediakan 17.5 hektar lahan. Dikenal sebagai Bukit Weld Forest Reserve. Lalu pada saat kemerdekaan Malaysia dari Inggris, nama Bukit Weld dikembalikan menjadi Bukit Nanas, dan hanya tersisa 9.3 hektar lahan akibat pembangungan.
Pada tahun 1996, menara Kuala Lumpur atau KL Tower dengan tinggi 421 meter dibangun di atas bukit untuk melayani kebutuhan telekomunikasi dan juga sebagai objek wisata.
Hutan Bukit Nanas ini direnovasi dan berganti nama menjadi Taman Eko Rimba KL. Sedangkan kanopy walkaway baru ada sejak November 2015.

Sebenarnya ini bukanlah pintu masuk menuju Taman Eko Rimba KL. Ini adalah bagian pintu keluar, dimana ketika kamu selesai menjelajahi KL Forest Eco-Park dapat langsung dilanjutkan menuju KL Tower. Pintu masuk utama terletak di Jalan Raja Chulan, dan menjadi tempat pusat informasi hutan dengan sebuah galery kecil. Sayangnya karena dikejar waktu, aku tidak sempat untuk berkunjung dan mengeksplor isi dari galeri ini. Apalagi aku masuk ke KL Forest Eco-Park ini dari arah yang berbeda.

Ada 2 jalur, yaitu melalui canopy dan melalui jalur bawah. Karena tujuanku waktu itu ingin eksplor tempat-tempat instagram-able, maka aku memutuskan untuk melewati jalur canopy.

Terdapat 9 menara perhentian dengan 5-18 meter jembatan gantung. Di sepanjang jembatan gantung dan menara-menara ini kamu dapat mengambil gambar yang instagram-able.

Cerita menarik yang ingin aku bagikan disini mengenai pengalaman solo traveling ke tempat ini.

Pagi hari kira-kira pukul 8 pagi, aku memesan grab car dari tempatku menginap di Hotel Kapsul: Sim Hotel Bukit Bintang. Dari sana, aku langsung menuju KL Forest Eco-Park. Driver Grab Car agak kesusahan menemukan tempat ini, sehingga kami berputar – putar beberapa kali. Dan ketika aku melihat google, aku langsung mengatakan ke driver grab car untuk ikut ke arah KL Tower saja. Setibanya disana, masih sangat sepi. Tak ada seorang pun, yang ada hanya tukang taman yang saat itu sedang membersihkan taman. Aku lalu menuju pintu gerbang KL Forest Eco-Park, dan mulai kecil hati. Aku takut masuk kesana. Aku takut ketinggian dan aku juga takut masuk di dalam hutan sendirian. Aku selalu terbayang-bayang perkataan temanku untuk berhati-hati selama di KL. Well, mungkin ketakutan itu terlalu berlebihan sebenarnya.

Karena terlalu sepi, aku memilih untuk berfoto di pintu gerbang saja, dan setelah itu mencari objek wisata lain. Hingga tak lama kemudian, ada 3 turis cewek lainnya yang berjalan masuk ke hutan kota ini.
Aku pun mengikuti mereka dari belakang. Dan karena mereka berjalan terlalu cepat, sembari aku masih mengambil beberapa foto. Aku kehilangan jejak mereka. Hanya ada aku sendiri di atas jembatan diantara 2 jembatan gantung.

Aku mengurungkan niat, dan kembali lagi ke tempat semula. Aku mencoba berjalan ke arah KL Tower dan tulisan “I Love KL Tower Malaysia”.

Disana aku bertemu seorang perempuan India paruh baya yang sedang selfie. Dia mengajakku mengobrol mengenai cara mengambil foto KL Tower yang bagus. Saat itu, lokasi matahari memuat foto menjadi backlight. Lalu kami mengobrol dan bertemu lagi seorang turis cewek dari Eropa.


Dia terlihat seumuran denganku. Kami bertiga pun mengobrol mengenai angle yang tepat. Aku mengajak kedua turis yang kebetulan solo traveler juga, untuk masuk bersama di KL Forest Eco-Park. Sayangnya, si cewek dari eropa itu sedang menanti bus shuttle, dan ingin pergi ke tempat lain. Alhasil, hanya aku dan ibu dari India itu saja yang masuk bersama ke hutan kota ini.

Kami saling bergantian mengambil foto. Rasa ketakutanku pun agak berkurang, karena setidaknya aku memiliki teman untuk berjalan di atas jembatan gantung ini sekaligus untuk menjadi fotografer. Biasanya, aku lebih memilih menggunakan tripod dan bluetooh remote untuk mengambil foto. Hal itu memudahkanku, sehingga tidak perlu meminta tolong turis lain. Namun, lokasi jembatan gantung dan menara yang tinggi, membuat aku kewalahan jika harus berfoto sendirian. Aku dan turis dari India itu saling bergantian berfoto. Sayangnya, aku kurang puas dengan cara dia mengambil gambar.

Setelah berjalan menuju menara ketiga dari sembilan menara. Kami bertemu dengan turis dari Paris (yang kebetulan adalah solo traveler juga). Dia mengajak kami mengobrol dan menunjukan hasil fotonya di atas jembatan dengan background KL Tower. Akhirnya, aku meminta tolong padanya untuk mengambil foto.

Foto diambil oleh rekan turis lainnya
Foto diambil oleh rekan turis lainnya

Kami mulai mengrobol banyak hal dan dia mengatakan bahwa dia hanya transit di Kuala Lumpur untuk menuju ke Bali. Dia akan bertemu dua orang temannya dari Hongkong dan Australia, untuk bersama-sama liburan di Bali. Karena mengetahui hal itu, aku pun mencoba memberikan rekomendasi tempat menarik di Bali yang aku tahu. Pembicaraan kami ini akhirnya membawa kami sama-sama berjalan kaki menuju Mesjid Jamek. Tempat tujuan kami berikutnya.

Setiap perjalanan memiliki sebuah cerita unik untuk dibawa pulang. Bagiku, bertemu dengan sesama turis memberikan aku semangat yang lebih untuk terus mengeksplor lebih banyak lagi tempat-tempat di Indonesia maupun di luar negeri. Aku senang, ketika dengan bangganya aku merekomendasikan pantai-pantai di Bali. Medengarkan cerita mereka sambil berjalan kaki di tengah panasnya Kuala Lumpur juga menjadi pengalaman yang menarik.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s