Menjelajah Belitung Timur

Melihat Lebih Dekat Negeri Laskar Pelangi: Menjelajah Belitung Timur

10 Mei 2018, Perjalanan hari pertama di negeri Laskar Pelangi 🙂

Pernahkah kamu menonton film “Laskar Pelangi” ? Film yang diadaptasi dari buku Laskar Pelangi yang ditulis oleh Andrea Hirata ini diluncurkan pada tanggal 25 September 2008. Film ini meraih penghargaan sebagai Best Film di Bandung Film Festival 2009, Best Film di Indonesia Film Festival 2009, Film Favorit di Indonesian Movie Awards tahun 2009, Nomination for Best Film and Best Editor, Asian Film Awards 2009, SIGNIS Award di Hong Kong International Film Festival 2009 dan sebagai 3rd Place Audience Awards, di 11th Udine Far East International Film Festival, Italy 2009.

Tahukah kamu lokasi syuting film ini? Ya, Pulau Belitung, Provinsi Bangka Belitung adalah lokasi syuting film ini. Selain itu juga, pembuatan film ini menggunakan pemeran-pemeran lokal dengan melakukan casting di Belitung.

Film yang berdurasi 124 menit ini menampilkan keindahan alam pantai dan batu-batu granit yang unik di Belitung. Sejak saat itu, Belitung menjadi salah satu tempat wisata yang banyak dilirik oleh wisatawan.

Perjalanan saya di weekend kali ini bertemakan “Melihat Lebih Dekat Negeri Laskar Pelangi”.

Pulau Belitung tidak memiliki alat transportasi umum, dan hampir semua warganya memiliki kendaraan pribadi (minimal motor roda dua). Oleh karena itu, perjalanan kali ini, saya memutuskan untuk join di open trip Wuki Travel. Tentunya, karena mengikuti open trip, semua itinerary sudah diatur oleh pihak travel. Harga open trip-nya pun terbilang cukup murah karena sudah termasuk tiket pesawat, harga kapal untuk islands hopping dan penginapan.

Hal pertama yang saya kagum ketika tiba di Belitung adalah langit biru dan awannya! Berbeda dengan Jakarta yang sudah tercemar banyak polusi, langit Belitung sangatlah bersih. Berwarna biru terang dan dihiasa gumpalan-gumpalan awan putih yang wow banget!

Langit biru yangmenemani kami sepanjang jalan menuju Belitung Timur

Tanpa basa-basi lagi, berikut ceritanya:

Starting point: Bandara Soekarno Hatta, Banten.

Subuh jam 4.30 saya cepat-cepat memesan taxi online menuju Bandara Soekarno Hatta. Lokasi tempat saya tinggal dengan Bandara hanya berjarak sekitar 30 menit. Antrian yang panjang dan begitu ramai padat menghiasi terminal 1C pagi itu. Tentunya, Kamis pagi itu adalah harpitnas (hari kejepit nasional — dimana ada jeda 1 hari kerja di antara hari libur dan weekend). Banyak yang mengambil kesempatan liburan, apalagi sebelum puasa dimulai.

Pihak travel sudah melakukan online check in bagi kami. Sehingga kami hanya perlu mendaftarkan bagasi kami. Semua berjalan dengan lancar.

Waktu yang harus ditempuh dari Bandara Soekarno Hatta, Banten menuju Bandara H.A.S Hanandjoeddin, Tanjung Pandan adalah 1 jam 5 menit.

Bandara H.A.S Hanandjoeddin, Tanjung Pandan.

Maksud hati ingin melihat Belitung dari ketinggian pesawat, saya malah tertidur hingga pesawat mendarat dengan sempurna. Perjalanan kali ini, saya disambut dengan mentari pagi yang begitu cantik.

Di sana, tim Wuki Travel sudah menunggu kami di pintu keluar bandara. Karena bandara tidaklah besar dan sangat minimalis, maka saya dengan mudah mengenali tim Wuki Travel. Saya pun berkenalan dengan teman-teman satu trip saya kali ini.
Bagasi saya dan teman-teman satu tim open trip (selanjutnya akan disebut sebagai “kami”) diletakkan di mobil lain, sedangkan kami segera melanjutkan perjalanan menggunakan mobil/minibus Elf. Tentunya, kami singgah terlebih dahulu di pusat kota untuk sarapan bersama.

Jadwal kami di hari pertama, adalah Menjelajah Belitung Timur.

Replika SD Laskar Pelangi.

Kata orang, kamu belum pergi ke Belitung jika belum mengunjungi tempat ini. Ya, perjalanan ditempuh lebih kurang 1 jam menuju Replika SD Laskar Pelangi. Tentu kamu akan bertanya-tanya, “kok replika sih?”. Ya, Tempat syuting film Laskar Pelangi sebenarnya berada di SD Negeri 9 Selingsing. Bangunan kayunya dipindahkan ke Kecamatan Gantung (tempat yang sekarang menjadi tujuan wisata di Belitung). Sedangkan, gedung sekolah SD Muhammadiyah Gentong yang sebenarnya sudah rusak dan tidak ada lagi.

Di atas bukit berpasir putih tersebut berdiri Replika SD Muhammadiyah Laskar Pelangi yang menjadi daya tarik bagi para wisatawan. Bangunan yang hanya berisi 3 ruangan ini sangat mirip dengan apa yang ada di dalam film Laskar Pelangi.

Wisatawan akan dipungut biaya Rp. 3.000/orang untuk dapat berkunjung disini. Tapi kami tidak lagi membayar karena sudah include dalam biaya open trip dari Wuki Travel.

Pintu gerbang masuk Replika SD Laskar Pelangi

Replika SD Laskar Pelangi

Salah satu ruangan di SD Laskar Pelangi

Rumah Keong / Dermaga Kirana

Tak jauh dari lokasi Replika SD Laskar Pelangi, terdapat Rumah Keong, atau dikenal juga dengan Dermaga Kirana / Rumah Rotan. Di lokasi wisata ini, terdapat rumah yang dibuat dari bahan rotan dan berbentuk mirip keong. Kalian juga bisa menikmati danau jernih yang disebut Kolong oleh masyarakat Belitung. Danau / Kolong ini adalah kolam bekas penambangan timah. Menurut, tour guide kami, pengunjung bisa menyewa perahu, dan menjelajah danau ini. Walaupun demikian, pengunjung dilarang berenang, karena kemungkinan masih banyak hewan air.

Museum Kata Andrea Hirata

Tampak Depan Museum Kata Andrea Hirata

Perjalanan dilanjutkan ke Museum Kata Andrea Hirata. Andrea Hirata lahir dan berasal dari Pulau Belitung. Laskar Pelangi adalah novel pertamanya, dan juga menghasilkan tiga sekuel, Sang Pemimpi dan Edensor. Selain Tetralogi Laskar Pelangi, Andrea Hirata juga menulis buku Padang Bulan, Sebelas Patriot, Ayah dan Sirkus Pohon.

Di dalam museum ini, kalian bisa mengikuti kisah-kisah dari laskar Pelangi, dan juga karya-karya Andrea Hirata yang lainnya. Interior bangunan pun cukup unik dan memiliki kisah. Warna bangunan di cat warna-warni dan dihiasi kata-kata di temboknya. Buat kamu yang menyukai spot-spot instagram-able untuk menghiasi profil instagram kamu, Museum Kata Andrea Hirata bisa menjadi salah satu pilihan menarik bagimu.

Museum yang berada di Jalan Raya Laskar Pelangi No. 7, Gantong ni baru diresmikan pada Bulan November 2012 dan dikenakan Rp. 50.000 sebagai biaya masuk. Setiap pengunjung akan mendapatkan 1 buku saku Kisah Ikal dan Lintang Laskar Pelangi: The Rainbow Troops.

Museum Kata Andrea Hirata juga menjadi museum sastra pertama di Indonesia.

Di area belakang Museum Kata, terdapat juga Warung Kopi “Kupi Kuli”  dimana pengunjung bisa membeli kopi dan menikmatinya disini 🙂

Kampung Ahok

Salah satu destinasi wisata di Belitung Timur adalah Kampung Ahok. Siapa sih yang tidak mengenal Ahok atau Basuki Tjahaya Purnama?  Kampung Ahok sendiri didirikan oleh adik dari Pak Ahok, dan membuat tiruan rumah keluarga besar mereka dari tahun 1924. Di kampung Ahok, kamu dapat melihat rumah panggung adat Belitung, tampak depan Rumah Ahok,  dan juga membeli oleh-oleh khas belitung, seperti kerupuk, dan kain batik bermotif khas Belitung.

Rumah Ahok

Seafood Segar Manggar, Pantai Serdang

Terkenal dengan wisata pantai, tentunya tak lepas dari wisata kuliner Seafood. Makan siang hari ini, kami menikmatinya di RM. Seafood Segar Manggar Rudi Fakistan, di daerah Pantai Serdang. Di sini kamu bisa menikmati hidangan seafood yang enak dengan semilir angin pantai walaupun tidak tepat berhadapan dengan pantai. Kamu harus mencoba ikan kuah kuning khas Belitung di sini 🙂

ikan kuah kuning khas Belitung

 

Vihara Kwan Im

Umur vihara ini sudah lebih dari 250 tahun. Vihara Kwan Im merupakan vihara terbesar dan tertua di Pulau Belitung. Vihara yang terletak di Desa Burung Mandi, Manggar, 79 KM dari tanjung Pandang ini setiap harinya ramai dikunjungi pengunjung. Selain sebagai tempat beribadah, kalian juga dapat melihat pemandangan indah Pantai Burung Mandi dari lokasi Vihara.

Berkunjung ke sini tidak dikenakan biaya. Namun, jangan lupa untuk tetap menjaga kebersihan dan menghormati mereka yang sedang melakukan ritual ibadah di sini ya 🙂

Pantai Burung Mandi

Destinasi terakhir kami di hari pertama berhenti di Pantai Burung Mandi. Disini ombaknya tenang dan air laut yang tteduh dan bersih. Banyak juga perahu-perahu nelayan yang sedang parkir di pinggiran pantai. Menghabiskan sore hari di Pantai ini sangatlah nyaman. Angin pantai dan pasir pantai yang bersih menambah kesempurnaan hari itu.

Konon katanya, pantai ini sudah ada sejak abad ke-17 dan menjadi tempat penambahan timah secara diam-diam oleh Bangsa Belanda dan perusahaan-perusahaan asal Eropa. Dahulu, orang Belanda menyebut pantai ini dengan sebutan Borom Mandi atau Burum mandi. Biasanya, menjelang HUT Kemerdekaan RI diadakan lomba perahu layar di Pantai Burung Mandi.

Perjalanan hari pertama telah selesai. Kami kembali ke tempat penginapan di daerah Tanjung Pandan. Kami menginap di penginapan Mitra yang disediakan dan termasuk dalam biaya perjalanan kami dengan tim Wuki Travel. Satu kamar ditempati oleh 2 orang, twin bed. Kamarnya bersih dan orang-orang di penginapan pun sangat ramah. Kami pun menyiapkan diri untuk island hopping di hari kedua.

Penginapan Mitra

Baca juga cerita perjalanan menjelajahi negeri Laskar Pelangi di hari kedua dan ketiga:
#Day2: Island Hopping Belitung
#Day3: Danau Kaolin, Kong Djie, dan Belitung Selatan

2 thoughts on “Menjelajah Belitung Timur

  1. Pingback: Island Hopping Belitung! | Journey of Life

  2. Pingback: Danau Kaolin, Kong Djie dan Belitung Selatan | Journey of Life

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s