Cara Unik Tuhan Menangkap Kembali Seorang Naturalis

Telah kubawa pikiran ini menjauh dari keramaian kota,
Menikmati indahnya alam dengan suara ombak yang menderu.
Ku manjakan fisikku dengan sentuhan air pantai yang mempesona,
Luasnya lautan dan pasir pantai meneduhkanku!

Aku ingin berlari, berlari menjauh dari-Nya.
Mencoba menyembunyikan diriku dari hadapan-Nya.
Tapi disaat yang bersamaan, aku berharap menemukan-Nya melalui ciptaan-Nya.

Naturalis! Iya, awalnya kupikir aku adlh orang yg dapat “menemukan” Tuhan melalui alam ciptaan!
Tapi, tidak! Kali ini aku tidak mendapati-Nya disana.
Ku telusuri tebing dan pesisir pantai yang begitu memikat hati, tapi tak kutemukan Sang pencipta!

Ah Tuhan, mungkin aku terlalu berdosa. Sehingga pandanganku terhalang rasa bersalah!

Lalu, Tuhan menyapaku lembut melalui satu hal ini.
Tuhan menangkapku kembali!

Sejak dulu, orang menyebutku seorang naturalis. Bahkan hasil tes yang aku ikuti secara online pun mengatakan aku seorang yang naturalis, orang yang dapat “menemukan” Tuhan melalui alam ciptaan! Dan ya memang benar, bertemu dengan alam, apalagi pantai membuat semangatku berapi-api. Aku tidak peduli dengan teriknya mentari yang akan menggelapkan warna kulitku. Yang aku pahami, suara ombak itu sangat meneduhkan hatiku. Merantau di Jakarta merupakan suatu hal yang tak pernah terlintas di pikiranku selama ini. Berbaur dengan macetnya kota dan bising-nya kota ini membuat aku sejujurnya tidak terlalu betah. Di saat hari libur atau weekend,  aku biasanya berkumpul dengan teman-teman atau pergi ke luar kota, minimal ke Kota Bogor. Berada 2 tahun lebih di kota ini, membuat aku memutuskan untuk menambah jarak jangkauan liburanku.

Singkat cerita, aku pergi ke Bali selama lebih dari 1 minggu. Kebetulan saat itu, ada temanku yang menikah di sana. Aku pun hadir dan sekaligus melanjutkan perjalanan liburanku sendirian di sana.

Januari 2018, awal tahun yang cukup hectic dan menyenangkan bagiku. Aku baru saja menyelesaikan liburan natal di Semarang bersama teman-teman, kemudian 3 hari liburan tahun baru di Ambon dan setelah itu 1 hari bekerja di Jakarta, dan lanjut liburan di Bali selama 10 hari. Tentunya, aku sangat excited. Pantai, pantai dan pantai, aku akan menelusuri semua keindahan pantai Bali. Bahkan aku juga membeli paket one-day-trip ke Nusa Penida.

Apa yang aku ekspektasikan dari semua itu?? Ya, aku berekspektasi besar, kalau aku akan bisa menenangkan pikiranku, berdevosi bersama Tuhan di pinggiran pantai, berlari, tertawa dan melepas kepenatan. Aku akan melakukan Quality Time with God bersama kerasnya deburan ombak. Ya, itu semua ekspektasiku. Merogoh kocek yang cukup besar membuat ekspektasiku sangat besar pula.

Singkat cerita, beberapa hari sudah aku tinggal di Bali. Di hari keempat, aku sudah berpisah dengan rombongan teman-temanku yang sudah kembali ke Jakarta dan beberapa ke Surabaya. Aku melanjutkan perjalananku sendiri, dan menginap di tempat tinggal teman SMA-ku. 5 hari aku berpetualang sendiri menyusuri Bali. Karena tidak bisa berkendara, aku menyewa mobil dan kadang-kadang berpergian menggunakan taxi online. Aku memanjakan diriku dengan hamparan luasnya lautan biru dengan ombak yang bergulung-gulung. Lalu aku memanjakan diriku dengan butiran pasir putih pantai yang jernih dan sangat halus. Aku pergi ke tebing-tebing, dan melihat indahnya lautan luas, ciptaan Tuhan.

Sayangnya, aku tidak menemukan Tuhan di sana.

Lalu apa yang aku dapat? Keindahan foto dengan latar belakang lautan biru? Tidak juga. Apa aku bisa melepas penatku di sana? Tidak juga. Apa aku bisa memiliki Quality Time with God di sana? Tidak! Ya, tidak ada satu pun dari ekspektasiku yang terpenuhi.

Lantas, sia-siakah perjalananku ini??

Hari itu hari Rabu. Aku menyewa mobil dan juga supir yang siap mengantarku ke berbagai tempat wisata di Bali. Karena berpergian sendirian, aku memutuskan untuk akrab dan mengajak ngobrol si supir. Bapaknya ramah. Dia juga suka bercerita. Akhirnya, sepanjang perjalanan kami mengobrol banyak.
“Ya, kami di sini semua orang baik. Karena kami percaya Karma. Apa yang kami lakukan, pasti akan berdampak ke anak cucu. Jadi kalau kami jahat, pasti anak cucu kami akan celaka. Kami percaya karma”, kata Bapak Supir tersebut di tengah-tengah obrolan kami. Sepanjang perjalanan pun, kami bertemu dengan warga yang sedang melakukan upacara-upacara keagamaan di pinggir jalan. Bapaknya bercerita dengan penuh semangat arti dan makna upacara-upacara tersebut. Percakapan itu membuatku merenung, “aku punya Tuhan yang jauuuuh lebih besar. Allah yang mengorbankan anak-Nya yang tunggal untuk menebus dosa-dosaku. Yesus yang mati dan bangkit menebus dosa-dosaku, memulihkan relasi antara manusia dan Bapa. Bukankah itu hal yang sangat besar? Keselamatanku dijamin di dalam Yesus Kristus. Dialah satu-satunya jalan kebenaran dan hidup.” Merenungkan hal itu, membuat air mataku mengalir di dalam perjalanan. Aku berpikir aku bisa berlari dan menjauh dari Tuhan. Aku berpikir, dengan berpergian ke pantai, aku bisa menemukan-Nya. Aku berpikir, aku bisa menikmati waktu-waktuku dengan Tuhan di pinggir pantai. Tapi ternyata tidak.  Aku malah menemukan Tuhan melalui percakapanku dengan Pak Supir itu.

Kejadian itu sungguh tak terduga. Senja terakhir di Bali kuhabiskan dengan duduk diam di pinggiran pantai Kuta dan merenung. Merenungkan caranya Tuhan yang ajaib yang menangkapku kembali. Sore itu, barulah aku mengalami Tuhan secara pribadi selama di Bali.
Ah… Tuhan, cara-Mu begitu unik. Sangat tidak terduga bagiku.
Terima kasih karena telah menarikku sekali lagi di dalam pelukan-Mu.

Sejauh apapun aku berlari, Tuhan tetap mengasihiku! Dia yang selalu menantiku pulang dan berlari menyambutku dengan tangan terbuka, dan memeluk erat diriku. .
“Ke mana aku dapat pergi menjauhi roh-Mu, ke mana aku dapat lari dari hadapan-Mu? ku bersyukur kepada-Mu oleh karena kejadianku dahsyat dan ajaib; ajaib apa yang Kaubuat, dan jiwaku benar-benar menyadarinya.”—Mazmur 139:7,14

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s