Sebuah Kisah tentang Kehilangan

Photo by Amine Rock Hoovr on Unsplash

Beberapa bulan lalu, di akhir liburanku di kota Jogjakarta, aku mendapat kabar yang mendukakan hatiku. Malam itu, aku sedang menatap kosong keluar jendela kereta api yang sedang menuju Jakarta. Hari itu, aku baru saja menyelesaikan liburan singkat bersama 2 orang teman dan sedang dalam perjalanan kembali ke “realita”. HP-ku berbunyi dan hatiku sedih sekali membaca sebuah chat singkat dari keluargaku. Ya, salah satu anggota keluarga besarku sedang berada di ICU sebuah rumah sakit di Ambon, kampung halamanku. Dia adalah suami dari kakak tertua mama. Di menit yang sama, aku menaikkan doa singkat pada Tuhan. Doa sederhana “Tolong beri kesembuhan Tuhan. Tolong jaga keluarga kami. Biarlah kehendak-Mu nyata atas kehidupan keluarga kami”. 8 jam di dalam kereta pun berlalu, dan akhirnya aku tiba di stasiun Pasar Senen, Jakarta Pusat.

Selasa, 25 April aku kembali beraktivitas seperti biasanya. Aku berangkat menuju kantor. Tepat di depan pintu kantor, aku ditelepon oleh sanak saudara dari kampung halaman. Lagi, telepon yang cukup singkat: “Papi sedang sekarat. Semua saudara akan pulang malam ini ke Ambon. Apakah kamu bisa pulang?”. Kakiku kaku, bibirku tak sanggup berkata apa-apa, detak jantungku berdetak begitu cepat, semua terlalu tiba-tiba. Segera aku mengecek jatah cuti, berjalan cepat menuju ruangan HRD, menghubungi bos-ku dan mengurus cuti. Semuanya berjalan cepat, aku mendapat ijin dan segera aku menghubungi saudaraku lainnya di Jakarta dan mengatur waktu kepulangan agar kami bisa menumpangi pesawat yang sama. Masih tak bisa berkata-kata, lemas dan keringat dingin. Kukuatkan hatiku dan tetap melanjutkan aktivitas hari ini.

Lagi, semua berjalan begitu cepat. Saat aku sedang weekly meeting di pagi itu, HP berdering. Saat aku mengangkat panggilan telepon itu hanya terdengar suara tangisan. Belum ada kata-kata yang terucap, hingga samar-samar ada suara dari seberang telepon “Papi sudah meninggal.” Ha? Kenapa begitu cepat? Aku baru saja berencana pulang ke Ambon dan menemuinya bersama keluargaku lainnya dari Jakarta? Kenapa papi tidak bertahan sebentar lagi? Kenapa begitu cepat Tuhan? Kenapa? Tangisku pecah dan terduduk lemas di ruang meeting. Tak ada kata yang bisa kuucapkan. Pikiranku kosong. Seorang teman kantor yang sudah kuanggap kakak sendiri, berjalan keluar ruangan meeting menemui aku. Disusul cici HRD-ku. Pelukan. Ya, aku menangis dipelukan mereka berdua.

Aku sibuk dengan HP-ku, menghubungi sanak saudaraku di Jakarta dan merencanakan kepulangan dalam waktu yang tercepat. Hari itu, semuanya menjadi sendu. Langit kelabu dan pikiranku kosong. Semua teman-teman mencoba menghiburku. Aku menyelesaikan beberapa pekerjaanku untuk seminggu.

Sore hari, aku kembali ke kos, merapikan baju-bajuku dan segera ke Bandara. Setibanya disana, aku menemui saudaraku yang lain dan melanjutkan perjalanan kami ke Ambon.

Sendu, seharusnya aku menyukai perjalanan malam dengan pesawat. Tapi hari itu tak ada bintang. Mungkin ada, namun sendu hati ini memudarkan semuanya.

Pagi hari, aku pun tiba di Ambon dan segera menuju rumah. Sesampainya di rumah, semuanya menggunakan baju hitam tanda berkabung. Seharusnya setiap kali aku pulang ke rumah, hatiku bersukacita. Ya, bersukacita menemui semua keluarga dan berkumpul bersama.

Hari ini semuanya berbeda. Sangat berbeda.

Kamis siang, tibalah hari pemakaman. Semua handai taulan berdatangan diikuti banyaknya karangan bunga. Pagi itu, di depan rumah penuh dengan karangan bunga dukacita dan ratusan orang menggunakan baju hitam. Lantunan lagu dan bunyi terompet mengiring kepergian papi. Kami pun menyanyikan pujian terakhir untuknya, membawanya ke Surga, tempat tenang dan damai bersama Tuhan Yesus:

 

Pagi itu, Selasa 25 April 2017, Langit membisikan tangis.

Adik, kakak, istri, anak dan cucu membungkam bisu

Hanya tetesan air mata yang terus mengalir

Mengantar kepergianmu kembali ke pangkuan Bapa.

Tiga tahun lebih Opa jalani penderitaan

Dengan semangat untuk hidup

Berjuang, memerangi setiap sakit yang terus menggerogoti tubuh

Berjuang melawan rasa sakit, hanya untuk kami anak cucu

Masih terekam jelas setiap candamu

Dekapan pelukanmu masih terasa hangat

Petuahmu tak pernah berhenti,

Menjadi alarm di kala kami salah melangkah

Tatap matamu yang sayu, mengingatkanku pada ketulusan hatimu

Papi… Opa…

Maafkan kami yang seringkali menyakiti hatimu.

Maafkan kamu yang seringkali mengeluh

Maafkan keegoisan hati kami

Terima kasih untuk semua yang telah opa lakukan untuk kami anak cucu

Kini tak ada lagi kesakitan & tangis.

Berbahagialah papi bersama Bapa di Sorga

Selamat jalan Papi,

Selamat jalan Opa.

Pergilah dengan tenang.

Kelak di Sorga, Rumah Tuhan,

Kita akan berjumpa kembali

 

Dimana, akan ku cari

Aku menangis seorang diri

Hatiku slalu ingin bertemu

Untukmu aku bernyayi

Untuk ayah tercinta

Aku ingin bernyanyi

Walau air mata

Di pipiku

Ayah dengarkanlah

Aku ingin berjumpa

Walau hanya dalam

Mimpi..

Lihatlah, hari berganti

Namun tiada seindah dulu

Datanglah, aku ingin bertemu

Untukmu, aku bernyanyi

Untuk ayah tercinta

Aku ingin bernyanyi

Walau air mata

Di pipiku

Ayah dengarkanlah

Aku ingin berjumpa

Walau hanya dalam

Mimpi..

Satu per satu tangkai bunga kami berikan sebagai tanda kasih kami pada papi. Peti pun ditutup diiringi tangisan. Hati kami menangis, jiwa kami masih tak percaya, tapi yang kami tahu, papi sudah tenang bersama Tuhan Yesus. Tak ada lagi kesakitan. Di atas sana, papi sudah bertemu Tuhan dan sedang bersukacita. Papi bisa berlari, bisa kembali tertawa, tak ada rasa sakit sedikit pun.

Suasana di rumah papi menjadi berbeda. Namun satu yang menjadi keyakinan kami: “….Tuhan yang memberi Tuhan yang mengambil. Terpujilah nama Tuhan”.

Dan, kami tetap harus melanjutkan hidup kami di dunia ini. Kedukaan telah kami rasakan, disanalah Tuhan mengajarkan kami untuk terus bersandar pada-Nya.

* * *

Merantau memang sulit, apalagi harus mendengar kabar duka disaat kamu sedang berada jauh dari orang-orang terkasih. Ya, kini aku tahu rasanya pulang ke rumah dengan duka yang mendalam. Tembok bandara menjadi saksi bisu bahagia dan tangis yang terukir. Sulit, teramat sulit berada jauh dan harus kembali karena kedukaan. Kini, aku tahu rasanya.

* * *

Tak lama setelah itu, mama dari rekan kerjaku yang meninggal di kampung halaman. Mendengar kabar itu, air mataku mengalir deras. Aku tak mengenal siapa mamanya, aku pun belum pernah bertemu dengan beliau, tapi aku menangis karena aku tahu ini hal yang sulit bagi temanku.

* * *

Hidup, tak ada yang dapat menebak kapan akan datang kematian itu. Tak seorang pun. Hari ini, mungkin aku dapat berlari sambil tertawa bersama teman-teman. Tapi mungkin besok, aku sudah terbaring kaku dalam sebuah kotak 2 x 1 meter. Beberapa minggu yang lalu aku mendengar kabar dukacita datang dari saudara jauh di kampung halaman. Mendengar hal tersebut, tentu aku sedih. Walau tidak intens berkomunikasi dengannya, namun di tubuh kami mengalir darah saudara. Dua dari tiga anaknya bersekolah di luar Ambon, bahkan ada yang di luar negeri. Ya, mengetahui hal itu, aku sangat berempati pada anaknya. Anak yang sedang menuntut ilmu di luar negeri untuk membahagiakan papanya, namun tak bisa bertemu di hari terakhir hidup papanya. Air mataku mengalir deras ketika melihat tayangan lagu dan puisi yang dilantukan oleh anak-anaknya. Ah.. sungguh sebuah pujian yang tulus dari dasar hati.

Lagi, tak ada yang mengetahui kapan kita akan terus hidup dan kapan Tuhan memanggil kita. Yang harus kita lakukan adalah berbuah, menjadi terang di dunia ini. Sambil terus memandang pada Yesus, kita dapat memberikan yang terbaik bagi sesama.

Biarlah hidup kita dapat menjadi saksi dan terang bagi orang di sekitar.

“Karena bagiku hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan. Tetapi jika aku harus hidup di dunia ini, itu berarti bagiku bekerja memberi buah. Jadi mana yang harus kupilih, aku tidak tahu. Aku didesak dari dua pihak: aku ingin pergi dan diam bersama-sama dengan Kristus—itu memang jauh lebih baik; tetapi lebih perlu untuk tinggal di dunia ini karena kamu. Dan dalam keyakinan ini tahulah aku: aku akan tinggal dan akan bersama-sama lagi dengan kamu sekalian supaya kamu makin maju dan bersukacita dalam iman, sehingga kemegahanmu dalam Kristus Yesus makin bertambah karena aku, apabila aku kembali kepada kamu.” – Filipi 1:21-26

One thought on “Sebuah Kisah tentang Kehilangan

  1. Pingback: Setahun yang Lalu . . . | Journey of Life

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s